PERBEDAAN PAHAM AHMADIYAH DENGAN ORANG LAIN

Diposkan oleh abutaheera On 21.43 0 komentar


Barangkali Anda akan merasa heran, kendati kami mempercayai segala akidah-akidah dalam Islam, lalu apakah perbedaan faham di antara kami dan orang lain, dan sementara ulama demikian panas hati dan membenci kami, dan mengapakah mereka menjatuhkan fatwa kafir atas diri kami?
Wahai pembaca yang budiman, semogalah Allah Taala berkenan memelihara Anda dari kejahatan-kejahatan dunia, dan Dia membukakan pintu-pintu karunia-Nya kepada Anda. Sekarang kami akan menjelaskan kecaman-kecaman yang dilontarkan terhadap kami yang karenanya kami dinyatakan keluar dari Islam.
(l) Kecaman pertama yang dilontarkan orang-orang yang menentang kami ialah, karena kami mempercayai bahwa Hadhrat Isa a.s. telah wafat dan dikatakan, bahwa dengan demikian kami menghina Hadhrat Almasih dan mendustakan Alquranul Karim serta membantah keputusan Rasulullah saw. Namun kendati benar bahwa kami mengakui Hadhrat Isa a.s. telah wafat, tetapi tidaklah benar kalau demikian kami menghina Almasih a.s. dan mendustakan Alquranul Karim serta membantah keputusan Rasulullah saw. Sebab, kian dalam kami merenungkan, kian kami menyadari bahwa dengan mempercayai Nabi Isa a.s. wafat segala tuduhan tersebut tidak mengenai sasaran, bahkan kebalikannya apabila kami mempercayai beliau masih hidup, barulah segala tuduhan itu dapat dikenakan kepada kami.


Kami ini orang-orang Islam. Selaku orang-orang Islam maka yang pertama-tama terbayang di dalam pikiran kami ialah keagungan Allah Taala dan kehormatan Rasul-Nya saw. Walaupun kami mempercayai segenap rasul, akan tetapi kecintaan dan ghairat kami kepada Sang Nabi itu dengan serta merta lebih bergelora. Beliaulah yang telah membuat dirinya menderita demi kita dan untuk meringankan beban kita, beban itu diangkatnya di atas kepala beliau seorang diri. Demikian rupa beliau berduka cita melihat kita seakan-akan mati; seolah-olah kematian itu didatangkan diatas diri beliau sendiri.
Dan untuk mendatangkan kesenangan pada diri kita, beliau sendiri meninggalkan segala macam kesenangan . Untuk menjunjung kita ke atas, beliau sendiri menunduk ke bawah. Siang hari dilewatkan beliau untuk memikirkan kebahagiaan kita dan malam hari dilewatkan beliau dengan berjaga-jaga demi kepentingan kita sehingga kedua belah kaki beliau membengkak karena berdiri lama (sembahyang tahajud, Peny).Walaupun beliau pribadi tak berdosa, beliau demikian rupa meratap-tangis sehingga tempat sujud beliau basah kuyup, semata-mata demi menghapuskan dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari azab. Demikian besar kesedihan beliau demi kita sehingga gemuruh suara dada beliau lebih nyaring dari suara gelagak air di periuk tengah mendidih.
Beliau telah menarik kasih sayang Tuhan untuk kita dan telah menyerap keridhaan-Nya bagi kita, dan telah menyelimutkan cadar karunia-Nya kepada kita, dan meletakkan jubah rahmat-Nya di atas pundak kita, dan mencarikan jalan menuju pertemuan dengan Dia bagi kita, dan beliau telah memohon untuk kita agar ditunjukkan cara memanunggalkan diri dengan Dia, dan bagi kita beliau telah menyediakan segala kemudahan yang tidak pernah seorang nabi pun menyediakan bagi umatnya.
Kiranya bagi kami lebih sedap digelari kafir daripada kami menyamakan derajat Almasih dengan Tuhan Yang menciptakan kita, Yang memelihara kita, Yang menganugerahkan kehidupan kepada kita, Yang melindungi kita. Yang memberi rezeki kepada kita, Yang memberi ilmu kepada kita, dan Yang menganugerahkan petunjuk kepada kita.
Kita bayangkan. seperti halnya Dia hidup di atas langit tanpa makan minum, Almasih pun tanpa memenuhi sarana hidup manusiawi tinggal hidup di atas langit. Kami menghormati Almasih a.s. hanya karena beliau adalah nabi dari Tuhan kami. Kami mencintai beliau hanya karena beliau cinta kepada Allah dan Tuhan mencintai beliau. Segala hubungan kita dengan beliau membenalu lalu betapa mungkin kami menghina” Tuhan kami demi beliau dan melupakan kebajikan-kebajikan-Nya, dan membantu padri-padri Kristen yang memusuhi Islam dan Alquran, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk berkata, “Lihatlah, bukankah dia yang hidup di atas langit itu Tuhan? Seandainya ia manusia, mengapakah ia tidak mati seperti manusia lain? Betapa kami harus menyerang dengan mulut kami terhadap Ketauhidan Tuhan, dan betapa kami dapat mengampak agama-Nya dengan tangan kami sendiri. Biarlah para ulama dan para kiai masa kini mengatakan sesuka hati mereka terhadap kami dan berbuat sesuka hati mereka serta menyuruh orang lain berbuat terhadap kami, baik kami digantung maupun dilempari batu hingga mati (dirajam), kami tidak dapat meninggalkan Tuhan demi Almasih. Kami memandang maut seribu derajat lebih baik daripada saat ketika kami harus menyatakan dengan mulut kalimat kufur, yakni, di samping Tuhan kami ia pun tinggal hidup dan karena orang-orang Kristen menyebut beliau anak Allah, mereka menghina Tuhan Yang Maha Berdiri Sendiri. Andai kata kami tidak memiliki ilmu, boleh jadi kami dapat menyatakan hal serupa itu. Akan tetapi ketika utusan Tuhan telah membuka mata kami dan membuat nyata kepada kami martabat keesaan -Nya, kegagahan-Nya, keagungan-Nya, kebesaran-Nya, dan kekuasaan-Nya, maka apapun yang akan terjadi, kami tidak dapat memilih seorang manusia dengan meninggalkan Allah Taala. Apabila kami berbuat demikian, .kami tidak tahu di mana tempat kami berpijak, sebab segala kehormatan, segala derajat adalah datang dari Dia. Jika nampak dengan jelas kepada kita bahwa dengan hidupnya Almasih merupakan penghinaan bagi Tuhan kami, maka betapa kami dapat mengakui kebenaran akidah itu, dan kendati pun hal itu ada di luar jangkauan otak kami bahwa dengan mengakui Almasih telah wafat menjadi kehinaan untuk beliau. Apabila para nabi yang lebih tinggi derajatnya dari beliau telah wafat dan tidak menjadi suatu kehinaan bagi mereka, maka dengan wafatnya Almasih a.s. betapa akan merupakan penghinaan terhadap beliau. Akan tetapi kami berkata, apabila pada suatu waktu tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali harus memilih antara menghina Tuhan atau menghina Almasih a.s., maka kami dengan senang hati akan menerima kepercayaan yang dengan kepercayaan itu merupakan penghinaan terhadap diri Almasih a.s.
Akan tetapi kami Sekali-kali tidak akan menerima sesuatu yang merupakan penghinaan terhadap Allah Taala. Dan kami berkeyakinan bahwa Almasih a.s. pun yang adalah termasuk orang-orang yang cinta kepada Tuhan tidak akan sudi kalau kehormatan beliau terpelihara tetapi Ketauhidan Allah Taala tercedera.

“Almasih sekali-kali tidak akan merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak pula malaikat-malaikat yang karib kepada-Nya” (4:173).
Kemanakah akan kami bawa firman Allah Taala ini? Dalam pada itu kami membaca dengan mulut kami sendiri ayat berikut,

'Dan aku senatiasa menjadi penjaga atas mereka selama aku berada di antara mereka; akan tetapi setelah Engkau wafatkan aku, maka Engkaulah Yang menjadi Pengawas mereka dan Engkau menjadi saksi atas segala sesuatu' (5:118).
Di dalam ayat itu Allah Taala Sendiri menerangkan ungkapan Almasih a.s. bahwa orang-orang Kristen sesat sepeninggal beliau, sedang tatkala beliau masih hidup, mereka tetap berpegang pada agama benar. Dalam pada itu, betapa kita dapat mengatakan bahwa Almasih masih hidup di langit kalau Allah Taala berfirman.

'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikan engkau secara biasa dan akan meninggikan derajat engkau di sisiKu dan akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang yang ingkar, hingga Hari Kiamat'( 3:56).
Dengan demikian jelaslah bahwa Almasih diangkat setelah beliau wafat. Tiada syak lagi, orang yang mengaku lebih fasih bahasanya dari pada Tuhan biar mengatakan, bahwa Dia (Allah Taala) memberitahukan wafat Almasih dengan kata insert lebih dahulu, padahal seyogyanya kata insert harus didahulukan. Akan tetapi kami mengetahui bahwa Kalam Allah adalah paling fasih dari segala Kalam, dan bersih dari segala kesalahan.
Betapa mungkin kita sebagai makhluk dapat menunjukkan kesalahan Alkhalik, Sang Pencipta kita. Sementara di dalam keadaan tuna ilmu betapa mungkin memberi pelajaran kepada Yang Maha Mengetahui.
Mereka berkata kepada kami, “Katakanlah, di dalam Kalam Allah terdapat kesalahan. Akan tetapi janganlah mengatakan bahwa kami sendiri keliru di dalam memahami Kalam Allah itu.” Akan tetapi, betapa kami dapat menerima nasihat itu, karena di dalam nasihat itu nampak kepada kami kebinasaan yang nyata. Dalam keadaan kami memiliki mata, bagaimanakah mungkin kami ingin jatuh ke dalam jurang? Dalam keadaan kami memiliki tangan, mengapakah kami tidak akan menyingkirkan dari mulut kami piala berisikan racun?
Sesudah kepada Allah Taala, kami mencintai Sang Khatamul Anbiya Muhammad Mustafa saw. Pada satu pihak beliau diberi kelebihan derajat oleh Allah Taala daripada sekalian nabi, dan pada pihak lain dari beliaulah kami dapati apa jua pun yang kami peroleh. Apa pun yang beliau mengerjakan bagi kami, seperseratusnya pun tidak pernah dikenakan oleh seseorang lain, baik ia nabi atau pun bukan nabi untuk kami. Kami tidak dapat menghormati orang lain biar siapa pun, lebih dan hormat kami terhadap beliau saw.
Bagi kami tidaklah mungkin dapat memahami Hadhrat Almasih a.s. dinaikkan hidup-hidup ke langit, sedangkan Muhammad Rasulullah saw. dikubur di dalam tanah; bersamaan dengan itu pula berkeyakinan bahwa beliau saw. lebih mulia dari Almasih a.s. juga. Betapa mungkin orang yang oleh Allah Taala diangkat ke langit karena nampak sedikit saja bahaya mengancamnya, jadi lebih rendah derajatnya. Sedangkan pribadi Yang diburu-buru oleh musuh-musuhnya sampai jauh, Allah Taala tidak pernah mengangkatnya ke suatu bintang pun untuk meninggikan derajatnya. Andai kata benar-benar Almasih a.s. berada di langit dan Penghulu dan Majikan kita itu terkubur di dalam tanah, maka bagi kami tidak ada kematian yang lebih pedih daripada kenyataan itu. Kami tidak dapat memperlihatkan muka pun kepada orang-orang Kristen.
Namun tidak, tidaklah demikian halnya! Allah Taala tidak mungkin memperlakukan rasul-Nya yang suci secara demikian. Dia Hakim di atas segala hakim. Betapa mungkin Dia pun mengangkat beliau saw. sebagai Penghulu segala anak-cucu Adam, lalu Dia lebih cinta kepada Almasih a.s. dan lebih memperhatikan kesulitan-kesulitannya.
Guna menegakkan kehormatan Muhammad Rasulullah saw. Dia menjungkir-balikkan dunia, dan Dia menghinakan orang yang berniat menghina beliau saw. sedikit saja, apakah ketika itu mungkin kiranya Dia dengan tangan-Nya Sendiri menjatuhkan kebesaran beliau dan memberi peluang kepada musuh untuk mencela beliau? Bila kami membayangkan bahwa Muhammad Rasulullah saw. berkubur di dalam tanah dan Hadhrat Almasih a.s. hidup di langit, bulu kuduk kami jadi berdiri dan nafas kami jadi sesak, dan pada saat itu juga hati kami berseru, Allah Taala tidak mungkin berbuat demikian! Di antara segala wujud, Muhammad Rasulullah saw lah yang paling dicintai-Nya. Dia sekali-kali tidak akan sudi melihat beliau saw. wafat dan dikubur di dalam tanah, sedang Hadhrat Almasih a.s. masih tetap hidup di langit. Apabila seseorang berhak tetap hidup dan naik ke langit, maka seyogyanya orang itu Nabi mulia kita Muhammad saw. Jika beliau telah wafat, maka semua nabi pun telah wafat. Mengingat keluhuran dan ketinggian derajat beliau dan mengenal kedudukan beliau. betapa kami dapat menerima bahwa pada saat hijrah ketika beliau dengan susah payah menapakkan kaki beliau di atas pundak Sayyidina Abubakar r.a. untuk memanjati batu-batu padas Gunung Thur yang terjal, Allah Taala tak pernah menurunkan seorang malaikat pun untuk beliau. Akan tetapi ketika orang-orang Yahudi datang untuk menangkap Almasih a. s. segera Dia mengangkat beliau ke langit dan memberikan tempat kepada beliau di petala langit keempat. Demikian pula betapa kami dapat mempercayai bahwa, ketika di dalam Perang Uhud beliau hanya disertai beberapa sahabat terkepung oleh musuh, pada saat itu Allah Taala tidak mengangkat beliau s.a.w. barang sebentar saja ke langit dan mengubah rupa salah seorang musuh seperti rupa beliau dan disuruh mematahkan giginya. Malahan Dia mengizinkan musuh-musuh menyerang beliau sehingga beliau tidak sadarkan diri dan tergeletak di atas tanah bagaikan telah wafat, dan musuh berserak-sorai gembira dan berseru, 'Kita sudah membunuh Muhammad!' Akan tetapi berkenaan dengan Almasih a.s, Dia tidak suka kalau beliau mendapat suatu kesulitan. Baru saja orang-orang Yahudi hendak menyerang beliau, Dia mengangkat beliau ke langit lalu salah seorang musuh beliau diganti rupanya hingga menyerupai rupa beliau dan menggantikan beliau untuk digantung di atas salib.
Kami heran apa yang terjadi pada orang-orang itu! Pada satu pihak mereka mengaku cinta kepada Rasulullah saw., dan pada pihak lain mereka menyerang kehormatan beliau saw; dan tidak hanya hingga di situ, bahkan orang-orang yang saking cintanya kepada beliau saw. menolak untuk menjunjung tinggi seseorang lebih dari beliau. Mereka itu diberi kesusahan dan dinyatakan kafir karena perbuatan mereka itu. Apakah istilah kafir itu dikenakan kepada perbuatan menegakkan kehormatan Muhammad Rasulullah saw? Adakah menyatakan derajat beliau yang sebenarnyakah yang disebut tidak beragama? Adakah cinta kepada beliau itukah yang disebut murtad? Jika itulah yang dinamakan kufur, jika yang demikian itulah yang disebut tak beragama, dan jika yang demikian itulah yang disebut murtad, maka demi Allah, kami menganggap seribu kali lebih baik kekafiran yang demikian itu ketimbang keimanan yang dihayati kebanyakan orang. Lebih baik ketidakberagamaan semacam inilah ketimbang keberagamaan kebanyakan orang. Dan lebih baik kemurtadan semacam inilah ketimbang pengakuan iman kebanyakan orang. Tanpa takut dari celaan orang kami akan menyuarakan satu suara dengan pemimpin kami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau'ud a.s. dalam mengumandangkan:

“Setelah asyik dan cinta kepada Tuhan Aku
Aku mabuk cinta kepada Muhammad
Jika inilah yang disebut kufur
Maka demi Allah aku ini memang sangat kafir” (Peny).
Pada akhirnya semua orang pada suatu hari akan mati dan menghadap ke hadirat Allah Taala serta akan berurusan dengan Dia. Lalu, mengapakah kami harus takut kepada orang-orang? Apakah yang dapat dilakukan orang-orang untuk memudaratkan kami? Kami hanya takut kepada Allah dan kepada-Nyalah kami cinta. Sesudah itu, kecintaan dan penghormatan paling besar yang bermukim di dalam lubuk hati kami adalah kepada Rasulullah saw. Mudahlah bagi kami melepaskan segala kehormatan dunia, segala perhubungan dengan dunia, dan segala kesenangan dunia, akan tetapi kami tidak dapat menahan diri jika pribadi beliau saw. dihinakan. Kami tidak menghinakan para nabi lain, namun dengan memandang quat qudsiah (daya pengkudusan) beliau, ilmu beliau, kearifan beliau, perhubungan beliau dengan Tuhan, sekali kali kami tidak dapat menerima bahwa Allah Taala lebih sayang kepada salah seorang nabi lain ketimbang kepada beliau saw. Seandainya kami berbuat demikian tidak ada orang yang lebih layak dihukum selain kami. Sementara kami memiliki sepasang mata, betapa kami dapat mempercayai hal demikian bahwa ketika orang-orang Arab mengatakan kepada Rasulullah saw. :

“Tidak akan Sekali-kali kami percaya kepada engkau sebelum engkau naik ke langit, dan kami tidak akan meyakmi kenaikan engkau itu sebelum engkau membawa kliab dan langit yang dapat kami baca' (17:93).
Maka Allah Taala berfirman kepada beliau,

“Katakanlah, Tuhanku Mahasuci dan segala kelemahan. Aku hanya lah seorang manusia yang menjadi rasul' (17:93).
Akan tetapi, Dia telah mengangkat Almasih a.s. ke langit. Apabila timbul masalah mengenai Muhammad Rasulullah saw., maka dikatakan bahwa kenaikan ke langit adalah bertentangan dengan sifat manusia. Namun apabila timbul masalah mengenai Almasih a.s., maka tanpa guna beliau dinaikkan ke langit. Apakah dengan demikian tidak akan sampai kepada kesimpulan, bahwa Almasih a.s. bukanlah seorang manusia melainkan Tuhan, naudzu billah min dzalika! Atau, kesimpulan lainnya lagi ialah, beliau lebih mulia daripada Rasulullah saw. dan Allah Taala lebih sayang kepada beliau. Akan tetapi ketika hal itu nampak jelas seperti terang benderangnya matahari bahwa Rasulullah saw. termulia dari segala rasul dan segala nabi, lalu betapa akal dapat mempercayai beliau saw. memang tidak naik ke langit, bahkan beliau wafat di atas bumi ini dan dikubur di bawah tanah; namun Almasih naik ke langit dan terus hidup hingga ribuan tahun. Lagi pula masalah ini bukanlah hanya menyangkut masalah ghairat belaka, bahkan pula menyangkut masalah kebenaran Rasulullah saw. Beliau saw. bersabda,
“Seandainya Musa dan Isa masih hidup, tidak boleh tidak kedua-dua beliau harus mengikutiku” (Alyawaqitu wal jawahir, oleh Imam Abdul Wahab al Syi'rani r. a. ).
Apabila Isa a.s. masih hidup, maka ucapan beliau ini menjadi batal, naudzubiliah! Sebab, beliau dengan mengatakan insert mengabarkan tentang wafatnya kedua nabi itu, karena Musa a.s. dan Isa a.s. disatukan. Walhasil setelah memperoleh kesaksian dari Nabi saw., betapa seorang yang mengaku menjadi umat beliau dapat meyakini, bahwa Hazrat Almasih a.s. masih hidup. Seandainya beliau masih hidup, maka kebenaran dan ilmu Rasulullah saw. akan ternoda, karena beliau saw. sendiri mengatakan Nabi Isa a.s. telah wafat.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw. juga, bahwa beliau bersabda kepada Siti Fatimah r.a. tatkala beliau dalam keadaan sakit yang membawa wafat kepada beliau,

“Jibrail biasa membacakan Alquran kepadaku sekali setahun. Akan tetapi kali ini ia telah membacakan dua kali Ia mengabarkan kepadaku bahwa tidak ada seorang nabi pun berlalu yang umurnya tidak seperdua umur nabi sebelumnya. ia pan mengabarkan pula kepadaku bahwa Isa O.S. berusia seratus duapuluh tahun. Jadi, kukira umurku akan mencapai kurang lebih enampuluh tahun” '(Mawahib-ud-dunia oleh Qastalani, jilid l, hlm. 42).
Keterangan di dalam. riwayat itu bersumber pada ilham, sebab di dalam riwayat itu Rasulullah saw. tidak menerangkan sesuatu dari diri beliau pribadi, melainkan beliau menerangkan apa yang diterangkan oleh Jibril a.s. ; yaitu, usia Almasih a.s. seratus duapuluh tahun. Pendeknya, pendapat orang-orang yang menyatakan bahwa Almasih a.s. di dalam usia beliau yang ke32 atau ke33 tahun telah diangkat ke langit adalah salah. Sebab, andai kata Almasih a.s. telah diangkat ke langit di dalam usia itu, maka usia beliau bukanlah seratus duapuluh tahun, melainkan usia beliau sampai masa Rasulullah saw. Mendekati enam ratus tahun. Di dalam keadaan seperti itu seharusnya usia Rasulullah saw. mencapai paling kurang tiga ratus tahun. Akan tetapi beliau saw. wafat dalam usia 63 tahun; dan melalui ilham diberitahukan kepada beliau bahwa Hadhrat Isa a.s. telah wafat pada usia 120 tahun. Hal demikian jelas membuktikan bahwa kehidupan Hadhrat Isa a.s. dan bermukim beliau di atas langit sama sekali bertentangan dengan ajar an Rasulullah saw., lagi hal itu disangkal oleh ilham beliau. Dan bila demikianlah peristiwa sebenarnya, lalu betapa kami dapat mempercayai keterangan mengenai hidup Hadhrat Almasih a.s. dari penuturan seseorang dan mengesampingkan ungkapan Rasulullah saw.
Dikatakan bahwa apakah masalah itu di dalam jangka waktu seribu tigaratus tahun terbuka hanya kepada mereka (orang-orang) Ahmadi, dan tidak dimaklumi oleh orang-orang arif terdahulu? Akan tetapi sayang, orang-orang yang mencela itu membatasi pemandangan mereka pada pikiran orang-orang tertentu saja, yang mereka namakan ijmak dan mereka tidak memperhatikan bahwa ulama-ulama paling Awal adalah para sahabat sendiri. Sesudah beliau datang pula tokoh-tokoh alim ulama yang tersebar di seluruh dunia.
Jika kita memperhatikan para sahabat, maka beliau-beliau itu semuanya senafas dengan pendapat kami. Dan bagaimanakah dapat terjadi, bahwa para sahabat Rasulullah saw. sedetik pun dapat menerima kepercayaan yang merendahkan keluhuran martabat Rasulullah saw. Para sahabat tidak hanya sependapat dengan kami mengenai masalah itu, bahkan sesudah Rasulullah saw. wafat pun beliau-beliulah yang pertama-tama berijmak dalam masalah ini, bahwa Hadhrat Isa a.s. telah wafat. Buktinya, di dalam hadis-hadis dan sejarah tercantum riwayat bahwa wafat Rasulullah saw. telah memberi kesan mendalam pada para sahabat demikian rupa sehingga mereka tergoncang dan sebagian di antaranya bicara pun tidak dapat, dan sebagian di antaranya lagi berjalan pun tidak dapat, dan sebagian pula tidak dapat menguasai perasaan dan pikiran mereka. Kesedihan itu diartikan rupa berbekas di hati sebagian orang sehingga beberapa di antaranya setelah bersusah hati beberapa hari lamanya lantas meninggal dunia. Kesedihan itu menimpa Hadhrat Umar r.a. demikian mendalam bekasnya sehingga beliau tidak mempercayai berita wafat Nabi saw., dan seraya menghunus sebilah pedang berdiri dan berkata, barangsiapa mengatakan Rasulullah saw. telah wafat beliau akan membunuhnya. Rasulullah saw., seperti halnya Musa a.s. dahulu, dipanggil dan kembali lagi empatpuluh hari kemudian, demikian pula halnya Rasulullah saw. sesudah beberapa waktu kemudian akan kembali lagi. Barangsiapa menuduh Rasulullah saw. wafat mereka ada lah orang-orang munafik, dan beliau akan membunuh mereka dan beliau akan membunuh mereka dan menyalibkan mereka. Demikian pula beliau dengan meluap-luap bersikeras pada pendirian beliau, sehingga tiada seorang pun di antara para sahabat berani menyangkal perkataan beliau. Melihat gejolak semangat beliau itu beberapa orang menjadi yakin bahwa benarlah Rasulullah tidak wafat dan mulailah nampak pada wajah mereka tanda kegembiraan. Tadinya mereka menundukkan kepala, tiba tiba mereka mengangkat kepala lagi karena kegirangan. Melihat keadaan demikian, beberapa sahabat yang berpandangan jauh menyuruh seorang sahabat berlari supaya segera memangil Hadrat Abu bakar r.a. yang telah pergi ke suatu kampung di dekat kota Medinah dengan seizin Rasulullah saw. dalam selang waktu ketika nampak keadaan beliau agak membaik. Baru saja sahabat itu berangkat di pertengahan jalan bertemulah ia dengan Hadhrat Abubakar r.a. Begitu beliau melihat Hadhrat Abubakar, beliau mencucurkan air mata karena tidak kuasa menahan rasa sedih. Hadhrat Abubakar r.a. mengerti apa yang kiranya telah terjadi. Beliau bertanya kepada sahabat itu, “Apakah Rasulullah saw. telah wafat?” Sahabat itu menjawab bahwa Hadhrat Umar r.a. telah berkata, barangsiapa yang mengatakan Rasulullah saw. wafat, beliau akan mempancung lehernya dengan pedang. Mendengar ini beliau langsung pergi ke rumah Rasulullah saw., dan beliau membukakan kain cadar yang menutupi tubuh suci beliau dan melihatnya. Diketahui lah oleh beliau bahwa Rasulullah saw. benar-benar telah wafat. Air mata beliau berderai karena sedih berpisah dari kekasihnya. Beliau membungkukkan diri dan mengecup kening Rasulullah saw. seraya berkata, Demi Allah, Tuhan tidak akan mendatangkan maut dua kali kepada engkau. Dengan kemangkatan engkau, menimpalah kepada dunia malapetaka yang tidak pernah menimpa kepada dunia karena kemangkatan seorang nabi lain mana pun. Pribadi engkau tiada terlukiskan. Kebesaran engkau demikian keadaannya sehingga tiada ungkapan belasungkawa dapat mengurangi kesedihan perpisahan dengan engkau. Sekiranya untuk menghalangi kemangkatan engkau ada dalam di dalam jangkauan kemampuan kami, kami sekalian akan menghalangi kemangkatan engkau dengan menyerahkan jiwa raga kami.”
Setelah mengatakan demikian beliau menutup kembali kain ke atas wajah suci Rasulullah saw., dan pergi ke tempat Hadhrat Umar r.a. yang tengah berbincang dengan para sahabat serta mengatakan kepada mereka bahwa. Rasulullah saw. tidak wafat, bahkan masih hidup. Sesampainya di sana Hadhrat Abubakar r.a. berkata kepada Hadhrat Umar r.a. agar diam sebentar. Akan tetapi Hadhrat Umar r.a. tidak mengindahkan perkataan beliau dan terus jua mengoceh. Melihat gelagat demikian Hadhrat Abu bakar berpaling ke arah lain dan mulai berkata kepada orang-orang, se sungguhnya Rasulullah telah wafat. Para sahabat meninggalkan Hadhrat Umar r.a. dan berkumpul di sekeliling Hadhrat Abubakar dan pada akhir nya Hadhrat Umar r.a. pun terpaksa menyimak perkataan Hadhrat Abu bakar r.a..

“Dan Muhammad tidak lam melainkan seorang Rasul Sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Jadi jika ia mati atau terbunuh akan berpalingkah kamu atas tumitmu?” (3:145).

“Sesungguhnya wahai Muhammad engkau akan mati dan sesungguh nya mereka itu akan mati pula” (39:31).

“Hai manusia, barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad itu sudah wafat; dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak akan mati” (Bukhari, jilid 2, Bab Manaqib Abubakar).
Tatkala beliau r.a. membaca ayat-ayat tersebut di atas dan mene rangkan kepada orang-orang bahwa Rasulullah saw. telah wafat, maka jadi jelaslah kepada para sahabat keadaan sebenarnya dan serta merta mereka mulai meratap. Hadhrat Umar r.a. sendiri berkata, ketika Hadhrat Abubakar r.a. membuktikan kemangkatan Rasulullah saw. Dengan ayat-ayat Alquran tersebut, maka beliau merasa bahwa kedua ayat itu seolah-olah baru turun pada hari itu, dan tiada kekuatan pada kedua lutut beliau untuk berdiri. Kaki beliau gemetar dan beliau tidak menguasai diri lalu terkulai ke tanah dari kesedihan yang amat sangat.
Dari riwayat ini tiga masalah telah terbukti: Pertama, ialah, dengan wafatnya Rasulullah saw. ijmak (kesesuaian pendapat) para sahabat pertama-tama cenderung kepada pendapat bahwa para nabi sebelum beliau saw. semuanya telah wafat. Sebab, seandainya siapa pun di antara sahabat-sahabat mempunyai keraguan bahwa ada beberapa nabi belum wafat, tidakkah pada waktu itu juga beberapa di antara mereka akan berdiri dan mengatakan bahwa ayat-ayat yang dipakai dalih oleh Hadhrat Abubakar r.a. itu tidak benar? Sebab Nabi Isa a.s. semenjak enam ratus tahun yang lalu masih hidup di langit; jadi, tidaklah benar kalau sekalian nabi sebelum beliau saw. telah wafat dan seandainya beberapa di antara mereka masih hidup, apakah sebabnya Rasulullah saw. pun tidak . tetap hidup?
Kedua, ialah, kepercayaan mereka terhadap kemangkatan sekalian nabi terdahulu tidak disebabkan oleh suatu pendapat pribadi, melainkan oleh karena mereka menarik pengertian dan ayat-ayat Alquranul Karim. Sebab, seandainya tidak demikian, maka salah seorang sahabat pasti akan berdiri dan berkata bahwa walaupun hal itu benar para nabi telah wafat namun ayat yang dibaca beliau (Hadhrat Abubakar r.a.) tidak dapat disimpulkan bahwa sekalian nabi sebelum Rasulullah saw. telah wafat.
Pendek kata, pembuktian Hadhrat Abubakar Siddiq r.a. mengenai kemangkatan seluruh nabi terdahulu sebelum beliau saw. dengan ayat

dan bukan hanya diamnya para sahabat semuanya bahkan mereka menikmati kelezatan menimba arti dan (ayat) itu, dan lalu lalangnya para sahabat di lorong-lorong dan pasar-pasar membaca ayat itu membuktikan bahwa mereka semuanya sepakat dengan kesimpulan semacam itu.
Ketiga, ialah, dan riwayat itu terbukti bahwa walaupun mereka (para sahabat, Peny.) percaya atau pun tidak atas kemangkatan salah seorang nabi lain, namun demikian pasti mereka tidak mengetahui ten tang Nabi Isa a.s. masih hidup. Sebab, sebagai telah terbukti dari semua hadis yang sahih dan riwayat-riwayat yang terpercaya, Hadhrat Umar r.a. pada waktu itu ada di dalam keadaan emosi, mengatakan kepada para sahabat lainnya bahwa barangsiapa mengatakan Rasulullah saw. wafat beliau akan memenggal lehernya. Pada waktu itu, untuk membuktikan kebenaran pendapat beliau, dikemukakan beliau peristiwa kepergian Hadhrat Musa a.s. selama empatpuluh hari ke gunung. Akan tetapi beliau sekali pun tidaklah mengemukakan peristiwa kepergian Nabi Isa a.s. ke langit. Seandainya para sahabat berkepercayaan bahwa Nabi Isa a.s. masih hidup di atas langit, apakah sebabnya Hadhrat Umar r.a. atau para sahabat yang sependapat dengan beliau tidak mengemukakan peristiwa itu untuk menguatkan pendapat beliau-beliau? Adanya kenyataan mereka menarik kesimpulan dari peristiwa Nabi Musa a.s. dan mereka tidak menarik kesimpulan dari peristiwa Nabi Isa a.s. itu menjadi jelaslah kiranya bahwa di dalam pikiran mereka Sekali-kali tidak ada gagasan semacam itu mengenai peristiwa Nabi Isa a.s.(DA'WATUL AMIR,bagian 2)

KITAB-KITAB WAHYU YANG LAIN

Diposkan oleh abutaheera On 21.38 0 komentar

Ketika Al-Quran diwahyukan kira-kira 1325 tahun yang lampau, di dunia terdapat banyak agama dan banyak kitab agama. Di Arabia dan di dekatnya terdapat kaum-kaum yang menjadi pengikut agama Kristen atau makin cenderung kepada agama Kristen. Orang-orang Arab diikhtiari supaya masuk agama Yahudi. Di antara orang-orang yang masuk terdapat orang bernama Ka’b bin Asyraf, seorang kepala kabilah di Madinah dan musuh terkenal agama Islam, dan bapaknya, bapak Ka’b termasuk suku Banu Ta’i. Ia merasa begitu terkesan oleh agama Yahudi sehingga seorang Yahudi, Abu Rafi’ bin Haqiq, mengawinkannya dengan anak perempuannya dan Ka’b lahir dari perkawinan itu (Al-Chamis, jilid I)
Di Mekkah sendiri, selain budak-budak Kristen, ada orang-orang Mekkah yang cenderung kepada agam Kristen. Waraqa bin Naufal, saudara sepupu Khadijah, istri Nabi Muhammad saw, menganut kepercayaan Kristen. Ia juga berpengetahuan sedikit tentang bahasa Iberani dan menerjemahkan Injil-Injil bahasa Iberani ke dalam bahasa Arab. Kita membaca dalam Bhukari:
“Waraqa bin Naufal masuk agama Kristen


dalam masa jahiliyah dan sering menerjemahkan Injil-Injil dari Bahasa Iberani ke dalam bahasa Arab” (Bhukari, Bab Bad’al Wahy)
Pada ujung Arabia lainnya tinggal oran-orang Iran, dan mereka juga percaya kepada seorang nabi dan sebuah kitab. Walaupun Zend Avesta telah mengalami perubahan-perubahan oleh karena ulah manusia, namun ia dijunjung tingi oleh beberapa ratus ribu orang yang mempercayainya dan suatu negaa besar ada dibelakangnya.
Di India, Kitab Weda dipuja orang selama beribu-ribu tahun. Ada juga kitab Gita dari Sri Kresna dan ajaran Budha. Agama Kong Hu Cu berkuasa di negeri Cina tetapi pengaruh Budha semakin besar. (Perlunya Al-Qur'an Bagian ke 3.)

KISTI NUH

Diposkan oleh abutaheera On 06.04 0 komentar

Oleh : abu taheera


KISTI NUH diambil dari bahasa Urdu yang berarti Bahtera Nuh. Ia adalah legenda berwujud fakta, yang telah membuktikan keberpihakan Tuhan kepada Rasul utusannya dan telah menunjukan dasyatnya Adzab Tuhan yang ditimpakan kepada setiap orang yang mengingkari, menghina dan mencemoohkan rasul pilihan-Nya.

Berawal dari penentangan hebat kaum Nuh as. dan adanya Isyarat Tuhan bahwa tak seorang pun lagi akan beriman kepada misinya, kecuali orang-orang yang telah beriman sebelumnya, maka demi melihat keadaan kaumnya seperti itu Nuh as mulai gelisah sebab beliau memahami setelah beliau datang sebagai pembawa kbabar gembira (Mubasyir) maka tibalah saatnya Nadzir Tuhan berbicara, gema wahyu pun berdengung bahwa para pengingkar dari kaum Nuh as akan di tenggelamkan.

Sebelum benar-benar adzab itu tiba Tuhan memerintahkan Nuh as. untuk segera membuat bahtera dibawah pengawasan dan wahyu Tuhan-namun juga pembuatan bahtera itu ditengah ejekan dan hinaan menyakitkan dari para pemimpin kaumnya. Dengan Petunjuk wahyu Tuhan akhirnya bahtera itu pun selesai dibuat sebagai jaminan keselamatan bagi khadim-khadim setia-para pecinta Tuhan yang telah beriman bersama Nuh as.

Ketika perintah Tuhan datang, segera Nuh as, memerintahkan para pengikut beliau memasuki bahtera, bersama mereka juga dimasukan masing-masing sepasang binatang yang diperlukan, Nabi Nuah as. berpesan kepada para pengikutnya : Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim." QS. 23:29




Setelah semuanya siap Tuhan pun segera menampakan takdirnya, sumber-sumber mata air di negri dimana Nabi Nuh as. tinggal mulai menyembur ke permukaan, begitu juga air hujan tumpah ruah membanjiri bumi, maka air bah yang dahsyat segera terbentuk dan melahap semua kaum Nuh yang buta mata hatinya.

Seribu satu pertanyaan pengikut Nuh as. tentang pembuatan bahtera kini terjawab sudah, ditengah badai bah melanda mereka berlayar dengan aman dalam bahtera Nuh as. setiap bahtera itu melaju mereka meyaksikan orang-orang yang menghina Nabi Nuh as. sekarat ditenggelamkan banjir bah yang maha dahsyat, laknatullah ‘alal kadzibin.

Ketika bahtera Nuh sampai disuatu sudut, nabi Nuh memanggil anaknya yang tengah diombang-ambing banjir untuk ikut bersamanya, namun sang anak menolak dan berkata lebih baik saya pergi berlindung ke atas gunung, suatu jawaban yang sama sekali tidak di harapkan oleh Nabi Nuh as. dengan hati teriris-mata air berderai nabi Nuh berucap: “ Nak
Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang".

Kemudian saat itu datang ombak bergulung menelan putra nabi Nuh as. nabi Nuh menjerit berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya ia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." ( Surah Hud )

Dalam masalah keimanan tidak satupun bisa dipaksa, sesuatu yang diyakini seseorang konsekwensinya ditanggung sendiri-tidak ada seorang pun bisa dipersalahkan. Satu jiwa tidak bisa menggantikan jiwa yang lain di hadapan Tuhan, tidak harta tiada pangkat bisa dipertaruhkan untuk meringankan beban orang lain, itulah sebabnya Nuh yang berpangkat Nabi sekalipun tidak bisa menolong darah dagingnya sendiri-karena syafaat seorang nabi bukan untuk para pembangkang. Terbukti hanya pengikut setia Nabi Nuh as. yang diselamatkan Tuhan mereka berlayar dengan aman sentosa di bawah perlindungan Allah Swt dan mendarat di bukit Judi ( Qs 11: 44 ).

Allah swt berfirman :. Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.(Qs 29:15 ), makna dari ayat ini amat luas bahwa peristiwa Nuh as dan kaumnya tidak hanya bermanfaat pada masanya tetapi harus menjadi hikayat peringatan bagi seluruh umat manusia setelahnya.

Pada hakikatnya setiap utusan Tuhan datang, mereka senantiasa membuatkan bahtera bagi umatnya atau kalau dia hanya seagai Rasul yang mengikuti rasul sebelumnya mereka juga menunjukan jalan untuk memperbaiki dan kemudian menaiki kembali bahtera yang telah dibuat rasul sebelumnya. Zaman nabi Nuh as. bahteranya berwujud kayu dan paku, sedangkan pada zaman rasul-rasul setelahnya bahtera itu berupa syariat, dan walau berbeda bentuk namun fungsinya sama.

Bahtera Nabi Muhammad saw. Bernama Syari’at Islam yang ditakdirkan menjadi syari’at paling sempurna dan diperuntukan bagi seluruh umat manusia, artinya bahtera Islam itu mampu memenuhi segala kebutuhan penumpangnya dari mana saja mereka datang, dan ajaran islam itu sendiri memberikan jaminan kedamaian bagi para pengikutnya.

Bila dihitung dari masa Hijrah sampai sekarang Islam telah berusia 1430 tahun, dari masa-ke masa badai penetangan terus menghantam dari segala penjuru, ditambah juga dengan kekacauan di dalamnya telah membuat laju bahtera ini terseok-seok, memang bukan bahtera Islamnya yang rusak tetapi telah di nodai oleh kepentingan-kepentingan sebagian pemeluknya yang tidak bertanggungjawab, sehingga wajah islam tak lagi nampak indah.

Namun Rasulullah saw. Sendiri pernah bersabda bahwa Islam tidak akan hancur karena ada aku ( Muhammad ) di awalnya dan Isa di akhirnya serta Mahdi di pertengannya. Di lain hadis Rasulullah saw. Bersabda walaal mahdiya illa Isa(sunan Ibn Majah h.1341. Antara Mahdi dan Isa yang di maksud adalah satu orangnya.

Jadi, figure yang ditunjuk langsung untuk menjadi nakhoda bahtera Islam pada akhir zaman adalah sosok imam Mahdi,
Semoga blog ini bisa menampilkan bahtera Islam yang damai

CIRI KHAS TAFSIR AHMADIYAH

Diposkan oleh abutaheera On 04.52 0 komentar

Setelah berbicara begitu banyak tentang terjemahan kami, kami ingin mengatakan sesuatu tentang tafsir kami ini.
Tafsir-tafsir Al-Quran sudah banyak diterbitkan dan menambahkan sebuah lagi kepada jumlah itu agaknya hampir-hampir tak dapat dibenarkan. Tetapi, kami mempunyai alasan-alasan kuat untuk mengusahakan dan menyajikan suatu tafsir baru. Alasan-alasan itu ialah:
(i) Sebagaimana kami katakan, kata-kata Arab mempunyai arti yang luasnya luar biasa. Suatu terjemahan hanya dapat mengambil sebuah dan semua arti-arti itu. Oleh sebab itu perlulah disisipkan catatan-catatan pada terjemahan itu, dan dengan demikian mencantumkan arti-arti lainnya.
(ii) Semua tafsir Al-Quran yang besar dan sistematis terdapat dalam bahasa Arab, dan nyatalah bahwa orang-orang yang tak dapat memahami Al-Quran dalam bahasa Arab tak dapat menggunakan tafsir-tafsir itu.
(iii)Catatan-catatan penjelasan yang ditambahkan pada terjemahan-terjemahan oleh penulis-penulis bukan-Muslim tidak mencukupi karena dua sebab:
(a) Catatan-catatan itu dipengaruhi oleh tulisan-tulisan lawan-lawan Islam;
(b) Penulis-penulisnya tak punya pengetahuan tentang bahasa Arab, atau sedikit sekali. Mereka tak mampu membaca tafsir-tafsir yang lebih besar dan lebih dapat dipercayai. Oleh karena itu penerjemah-penerjemah Eropa tak menyinggung-nyinggung tafsir-tafsir itu. Mereka hanya menunjuk kepada tafsir-tafsir kecil yang lebih populer. Kalau terdapat juga penunjukan terhadap salah satu karya yang lebih besar, hal itu diambilnya dari karya lain, bukan dan aslinya.
(iv)Untuk dapat memahami buku yang sistematis atau ilmiah tidak hanya diperlukan pengetahuan bahasa yang dipergunakan buku itu, dan pengetahuan tafsir-tafsir tentang buku yang mungkin ditulis oleh ahli-ahli bahasa atau oleh ahli-ahli persoalan itu. Namun, juga diperlukan penelaahan luas tentang buku itu sendiri dan pendalaman tentang ilmu istilah, langgam dan pokok-pokok yang digunakan buku itu dan dari mana isinya mengambil maknanya. Orang-orang yang mencoba menafsirkan buku tanpa penelaahan buku itu sendiri tidak akan banyak memperoleh hasil dari tafsir-tafsir itu. Penerjemah-penerjemah dan penulis-penulis tafsir Al-Quran dari Eropa tampaknya tak melakukan penelaahan yang diperlukan tentang Kitab Suci ini. Maka tak mengherankan, kalau tafsir-tafsir mereka sering menggelikan.


(v) Setiap abad melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru dan dilihat dari segi itu setiap buku yang mengaku mengajarkan sesuatu dihadapkan kepada kritikan-kritikan baru. Dengan itu nilai suatu buku semakin teguh kedudukannya atau ia menjadi lebih disangsikan daripada yang sudah-sudah. Karena Al-Quran tak terkecuali dari kaidah itu, maka suatu tafsir baru diperlukan mengingat pengetahuan baru. Tanpa itu kita tak dapat mengukur berapa jauh Al-Quran masih berguna lagi sebagai ajaran atau berapa jauh ia telah maju dari masa yang lampau.
Ketika tafsir-tafsir Al-Quran yang pertama ditulis, Bible dalam bahasa Arab belum ada. Suatu naskah lengkap tidak ada. Bagian-bagian yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab tak diperoleh penafsir-penafsir Al-Quran. Karena itu kalau mereka perlu membicarakan bagian-bagian Al-Quran yang berisikan rujukan-rujukan kepada Bible atau riwayat-riwayat Musa a.s., mereka terpaksa bersandar pada apa-apa yang mereka dengar saja atau ada terkaan-terkaan mereka sendiri.
Tak usah dikatakan bahwa tafsir-tafsir mereka kadang-kadang mengecewakan dan kadang-kadang menggelikan. Penulis-penulis Eropa menisbahkan kesalahan-kesalahan mereka kepada Al-Quran, dan Kitab Suci itu dijadikan sasaran celaan dan ejekan. Mereka lupa bahwa penafsir-penafsir ini tidak mengenal Bible. Mereka bersandarkan pada cerita-cerita populer atau pada apa yang mereka dengar dan ulama-ulama Yahudi dan Kristen yang memberikan kepada penafsir-penafsir Al-Quran, yang tak menaruh curiga itu, bahan-bahan yang kadang-kadang mereka ambil dan kitab-kitab tradisi, dan bukan dan Bible, dan kadang-kadang dan khayalan jahat mereka sendiri. Dalam perbuatan ini penafsir-penafsir itu memang telah memperlihatkan kebodohan dan kecerobohan mereka, tetapi ulama-ulama Yahudi dan Kristen itu telah menunjukkan tidak mempunyai kejujuran dan kesalehan. Mereka itu, penulis-penulis Eropa pada masa kita ini, lebih banyak mempunyai alasan untuk menyesali kecurangan-kecurangan moyang-moyang mereka daripada menertawakan orang-orang Muslim penafsir Al-Quran itu. Tetapi, kini hal itu telah berubah. Kini pengetahuan tentang Bible sudah merata. Karya dalam bahasa Arab, Latin, dan Yunani telah terbuka untuk ulama-ulama Islam dan kami telah mampu menafsirkan dengan cara baru bagian-bagian Al-Quran berisikan keterangan-keterangan tentang Bible dan sejarah kaum Nabi Musa a.s.
(vi) Sampai masa kita sekarang ini perselisihan di antara satu agama dengan agama lain lebih kurang pertaliannya dengan cita-cita susila dan sosial dan lebih banyak dengan kepercayaan dan upacara agama. Oleh karena itu, ajaran Al-Quran ditujukan kepada cita-cita susila dan pendidikan susila. Tetapi, kini dunia lebih memperhatikan hal-hal yang praktis itu. Oleh sebab itu, dirasakan sangat perlunya mengusahakan suatu tafsir yang lebih banyak menggarap ajaran Al-Quran yang praktis.
(vii) Oleh karena Al-Quran itu Kitab wahyu, maka Kitab itu mengandung nubuatan-nubuatan. Memperbincangkan nubuatan-nubuatan itu tidaklah mungkin sebelum menjadi sempurna. Karena alasan itu juga kita memerlukan suatu tafsir baru yang akan mencantumkan nubuatan-nubuatan yang hingga kini sudah menjadi sempurna dan yang merupakan bagian penting dan bukti bahwa Al-Quran itu Kitab wahyu Ilahi.
(viii) Al-Quran membicarakan semua agama dan ideologi lainnya. Di dalamnya tercakup bagian yang paling baik pada ajaran-ajaran semua agama dan ideologi, menunjukkan kelemahan-kelemahan, dan mengisi kekurangan-kekurangan mereka.
Penafsir-penafsir Islam zaman dahulu tak mengetahui apa yang diajarkan dan dibela oleh agama-agama dan ideologi itu. Karena itu mereka tak mampu menghargai sepenuhnya apa-apa yang harus diajarkan Al-Quran tentang keduanya itu. Kini semua ajaran saling yang paling tersembunyi itu sudah semakin jelas , sehingga ajaran Al-Quran mengenai ajaran-ajaran lain menjadi nyata bagi penganut-penganutnya. Untuk mengisi kekurangan dalam tafsir-tafsir lama itu juga kita memerlukan suatu tafsir Al-Quran baru.
Karena alasan-alasan ini kami merasa bahwa terjemahan dan tafsir kami bukan saja tidak bersifat apolegetik atau mencari-cari helah, tetapi juga memenuhi kebutuhan yang sungguh-sungguh dan penting. Dengan menyajikannya kami memenuhi tugas kami.
Kami berharap bahwa orang-orang yang membaca terjemahan dan tafsir kami, dengan seksama dan tanpa prasangka, akan merasa terpanggil meninjau Islam dari sudut lain. Kami berharap mereka akan menjadi yakin bahwa Islam agama sejati tidak penuh dengan kesalahan-kesalahan. Sebagaimana disangka oleh pujangga-pujangga Barat, tetapi malahan merupakan suatu taman rohani yang ditata dengan sebaik-baiknya, tempat pengunjungnya dapat menikmati segala macam harum-haruman dan keindahan dan mempersembahkan sekilas pemandangan surga yang menjanjikan oleh semua Pembina agama.

PERLUNYA SUATU TERJEMAHAN DAN TAFSIR BARU

Diposkan oleh abutaheera On 04.15 0 komentar

Dalam menyajikan terjemahan dan tafsir baru Al-Quran ini kami menganggap pada tempatnya untuk mengemukakan, bahwa usaha ini bukanlah suatu usaha komersial dan bukan pula dirasakan pentingnya karena merupakan suatu hal yang baru.
Usaha kami terdorong oleh keyakinan, bahwa sementara terjemahan baru kini diperlukan oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab, suatu tafsir baru itu diperlukan oleh tiap-tiap orang, baik yang faham bahasa Arab atau pun yang tidak, berdasarkan dua sebab:
Terjemahan-terjemahan yang disiapkan oleh orang-orang yang bukan-Muslim — kecuali terjemahan-terjemahan ke dalam bahasa Urdu dan Persia — semuanya disiapkan oleh penulis-penulis yang sedikit atau sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang bahasa Arab dan yang karena itu malahan tak mengerti teks Arabnya, apalagi menerjemahkannya. Sebagian dari antara mereka menerjemahkannya dari terjemahan-terjemahan lain, dan hal ini hanya membuat maknanya lebih jauh lagi menyimpang dari aslinya.
Untuk menafsirkan teks terjemahan-terjemahan itu tidak didasarkan pada pengetahuan bahasa Arab, melainkan pada tafsir-tafsir lama. Tetapi, suatu tafsir itu pada umumnya merupakan pendapat perseorangan; jadi sebagian mungkin diterima oleh. seorang, sebagian diterima oleh orang lain dan sebagian lagi tidak diterima oleh siapa pun. Terjemahan yang didasarkan pada suatu tafsir dapat dikatakan mencerminkan pendapat perseorangan, tetapi bukan makna sejati teks itu.
Mengingat kekurangan-kekurangan itu benar-benar sangat diperlukan adanya suatu terjemahan baru yang disiapkan oleh ulama-ulama yang faham bahasa Arab dan bersandar teguh pada pengetahuannya tentang bahasa Arab, tata-bahasa dan langgamnya.


TERJEMAHAN INI MEMENUHI KEBUTUHAN
Terjemahan ini dimaksudkan untuk memenuhi kedua keperluan itu dan, insya-Allah, akan diikuti pada waktunya oleh terjemahan semacam ini dalam bahasa-bahasa lain.
Bahasa Arab ialah bahasa yang berpola filsafat. Kata-katanya disusun dengan suatu maksud. Akar-akarnya dibuat untuk mencerminkan perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman yang mendasar dan hal ini, dengan perobahan-perobahan kecil dalam penggunaan yang sebenarnya, memberi arti yang luas dan dalam kepada kata-kata bahasa Arab itu. Memindahkan kata-kata itu ke dalam sesuatu bahasa lain dengan sempurna adalah suatu pekerjaan yang hampir-hampir mustahil, dan oleh karena terjemahan saja tidaklah mencukupi, maka kami terpaksa menambahkan catatan-catatan penjelasan pada sesuatu terjemahan untuk menunjukkan keluasaan arti yang tersembunyi dalam teks itu. Terjemahan kami sendiri tidak menyimpang dan kaidah itu. Terjemahan ini tak dapat diharapkan menghasilkan arti aslinya yang sempurna, bahkan yang agak mendekatinya sekalipun. Kami hanya dapat berharap akan menampakkan salah satu saja dan berbagai artinya itu. Karena itu untuk mengisi kekurangan itu kami menambahkan catatan-catatan penjelasan pada terjemahan kami. Tetapi catatan-catatan ini pun tidak melingkupi segalanya. Catatan-catatan itu tidak menjelmakan arti penuh teks itu, tetapi hingga batas tertentu dapat menutupi kekurangan-kekurangan terjemahan itu. Dalam "Kata-kata Penting" kami membentangkan luasnya arti yang terkandung dalam teks itu; dan, untuk kepentingan ini, kami menggunakan kamus-kamus yang dianggap buku baku, baik oleh orang-orang Muslim maupun oleh orang-orang bukan-Muslim yang mengerti bahasa Arab. Kami yakin bahwa penelaahan bahan ini akan memperdalam pengertian pembaca mengenai terjemahan kami, dan akan meyakinkan bahwa arti yang kami usahakan memasukkannya ke dalam perkataan Arab aslinya tidaklah dilakukan sembarangan, melainkan didasarkan pada kebiasaan pemakaian dan kaidah bahasa Arab.
Pembaca yang tak paham bahasa Arab hendaklah merasa yakin bahwa penerjemahan kami, walau tak dapat diterima oleh sebagian orang, berdasar pada pemakaian bahasa Arab yang lazim dan dapat ditolak hanya bilamana terbukti bertentangan dengan bagian-bagian lain Al-Quran atau bertentangan dengan pemakaian bahasa Arab yang lazim..

NAMA AHMADIYAH

Diposkan oleh abutaheera On 04.04 0 komentar

Dengan Karunia dan Kasih Sayang Tuhan
Dia-lah Penolong

Kami menulis kitab ini dengan dua maksud: (l) supaya kami dapat menyampaikan kepada pembaca suara yang dikumandangkan Allah Taala untuk menghimbau segenap insan agar berhimpun di dalam satu markas Muhammadiyat; dan (2) memberi penerangan sekitar kepercayaan-kepercayaan dan peri keadaan sejumlah anggota Jemaat Ahmadiyah di mana saja sehingga manakala ada perkara disampaikan kepada yang berkuasa berkenaan dengan diri mereka, maka ia akan mampu memberi putusan berdasarkan pengetahuan sendiri.


NAMA AHMADIYAH

Sebelum menerangkan hal-hal lainnya, terlebih dahulu kami ingin menyatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah tidak menganut suatu agama baru melainkan Islamlah agamanya.
Selangkah saja menyimpang daripadanya kami pandang haram dan akan menyebabkan kenistaan. Nama baru yang disandangnya tidak menunjukkan agama baru, melainkan dimaksudkan hanya supaya Jemaat ini dapat ditampilkan kepada dunia nyata bedanya daripada kalangan lain yang juga menyebut dirinya orang Islam.
Islam adalah suatu nama terkasih yang dianugerahkan Allah Sendiri kepada umat Muhammad saw. Dia telah mengagungkan nama itu demikian rupa sehingga berkenaan dengan nama itu Dia telah berulang ulang menubuatkan melalui nabi-nabi terdahulu. Allah Taala berfirman di dalam Alquran,

"Dia telah memberi nama kepadamu musUm di dalam Kitab-kitab terdahulu dan di dalam Kitab Suci ini juga " (22:79).

Apabila kita memperhatikan Kitab-kitab terdahulu, ternyata di dalam Kitab Yesaya tercantum nubuatan itu sampai sekarang, berbunyi:



" ..... maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh Firman Tuhan" (Kitab Nabi Yesaya 62:2)

Pendek kata, nama mana lagi yang mungkin lebih mulia dan nama yang Tuhan Sendiri telah memilih bagi hamba-hambaNya, dan demikian disanjungNya sehingga dengan perantaraan lisan para nabi terdahulu menubuatkan nama itu. Dan, siapakah kiranya suka melepaskan nama yang mulia itu? Kami mencintai nama ini lebih dari mencintai nyawa kami sendiri dan kami menganggap agama ini sebagai pemberi hayat sejati kepada kami.
Namun oleh karena dewasa ini tiap-tiap golongan menamai diri masing-masing menurut daya khayal masing-masing, sebab itulah kami perlu menetapkan sesuatu nama guna membedakan dari mereka. Menilik keadaan zaman sekarang, maka nama yang sebaik-baiknya hanya Ahmadi.
Sebab, zaman ini adalah zaman penyebarluasan Amanat yang diemban Rasulullah saw. dan merupakan zaman penyiaran dengung sanjungan pujian terhadap Allah Taala. Jadi, karena memperhatikan masa penampakan sifat Ahmadiyat beliau saw. maka pada waktu ini rasanya tidak ada lagi nama pembeda yang lebih baik dari nama ini.
Walhasil, dengan hati yang tulus-ikhlas kami memang orang Islam. Kami mempercayai tiap sesuatu yang wajib dipercayai oleh seorang Islam sejati dan kami menolak tiap sesuatu yang wajib ditolak oleh seorang Islam sejati. Sungguh ia aniaya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala jika, kendatipun kami membenarkan segala kebenaran serta menaati segala peraturan Allah Taala, orang menuduh kami kafir dan menetapkan kami menganut suatu agama baru.
Manusia akan dituntut atas perkataan yang diucapkan mulutnya dan bukan atas apa yang diangankan di dalam hatinya. Siapakah dapat mengetahui apa yang terkandung di dalam hati orang lain? Barangsiapa menuduh orang lain bahwa apa yang diucapkan mulutnya tidak ada di dalam hatinya, ia mengangkat dirinya Tuhan, sebab wujud yang dapat mengetahui perikeadaan hati hanyalah Allah. Kecuali Dia, tiada seorangpun dapat mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati orang lain. Siapakah yang lebih mengetahui dan arif selain Rasulullah saw.? Beliau bersabda mengenai diri beliau:

"Sebagian di antara kamu sekalian menyampaikan pengaduan kepadaku. Aku sendiri pun seorang manusia, mungkinlah seseorang di antaramu lebih pandai bersilat lidah daripada orang lain. Jadi, jika aku memberikan kepada seseorang di antaramu hak saudaranya, berarti aku memberikan sepucuk api kepadanya. Hendaklah ia jangan mengambilnya" (Bukhari, jilid II, bab Ahkam Mu'izatul Imam lilmakhshum ').

Demikian pula tercantum di dalam hadis bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Usamah bin Zaid r.a. selaku komandan sebuah pasukan. Beliau menjumpai salah seorang kaum kafir, lalu beliau menyergapnya. Ketika hampir beliau akan membunuhnya, ia segera membaca Kalimah Syahadat. Namun demikian terus juga beliau membunuhnya. Tatkala berita itu sampai kepada Rasulullah saw., beliau bertanya kepada Usamah r.a. mengapa ia berbuat demikian. Hadhrat Usamah r.a.atas pertanyaan itu berkata, "Ya Rasulullah, ia mengucapkan syahadat karena takutnya". Rasulullah saw. bersabda,

"Mengapakah engkau tidak membelah hatinya untuk melihatnya?' (Musnad Imam Ahmad).

Maksudnya, bagaimana Hadhrat Usamah mengetahui apakah orang itu menyatakan Islam karena takutnya atau setulus hatinya? Sebab keadaan hati tersembunyi dan mata manusia.

Walhasil, fatwa dijatuhkan atas tuturan mulut dan bukan atas pikiran-pikiran di dalam hati. Sebab, pikiran-pikiran yang tergores di dalam hati hanya diketahui oleh Allah. Barangsiapa menjatuhkan fatwa atas pikiran-pikiran yang tergores di dalam hati seseorang, ia seorang pendusta, dan ia patut dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Taala. Jadi kami, orang-orang dari Jemaat Ahmadiyah, apabila menyebut diri kami sendiri muslim, maka tiada seorang pun berhak menjatuhkan fatwa terhadap kami bahwa Islam kami hanya bersifat pamer belaka dan sebenarnya di dalam hati kami mgkar dan Islam atau tidak percaya kepa da Rasulullah saw. atau membaca Kalimah Syahadat baru atau menetapkan kiblat baru.
Apabila tuduhan-tuduhan semacam itu dibenarkan mengenai diri kami, maka kami pun dapat mengatakan mengenai orang-orang yang melemparkan tuduhan semacam itu kepada kami, yaitu bahwa mereka mengaku diri mereka Islam secara lahir saja dan sepulangnya ke rumah orang-orang itu mencaci-maki Rasulullah saw. dan Islam, naudzu billah min zalik. Akan tetapi kami tidak dapat meninggalkan kebenaran hanya karena disebabkan oleh permusuhan seseorang. Kami tidak menjatuhkan fatwa terhadap seseorang berdasarkan secara lahir ia berbuat sesuatu, sedang di dalam hatinya lain lagi. Bahkan kami, sesuai dengan hukum syariat, hanya membahas sesuatu yang dinyatakan oleh orang itu sendiri.
Setelah itu kami hendak mengermukakan akidah-akidah yang dianut Jemaat kami, supaya Anda dapat merenungkan diantara akidah-akidah itu, hal manakah yang bertentangan dengan Islam : (l) Kami berkeyakinan bahwa Allah Taala ada; dan beriman kepada wujudNya merupakan pengakuan terhadap kebenaran yang paling agung dan bukan takhayul.
(2) Kami beriman bahwa Allah Taala Esa dan tidak ada sesuatu yang berserikat dengan Dia tidak di bumi dan tidak juga di langit. Selain Dia, segala sesuatu merupakan makhlukNya dan setiap saat mereka menggantungkan nasib mereka pada bantuan dan dukunganNya.
Dia tidak mempunyai anak Laki-laki, tidak pula anak perempuan, tidak pula ayah bunda, tidak pula istri, dan tidak pula saudara. Dia Tunggal dalam ketauhidanNya dan keesaanNya.
(3) Kami berkeyakinan bahwa Dzat Allah itu suci lagi bersih dari segala keaiban, dan di dalam DzatNya terhimpun segala kebagusan; tidak terdapat suatu cacat di dalam DzatNya. Tiada suatu kebagusan yang tidak terdapat di dalam DzatNya. KodratNya tidak berhingga.
llmuNya tidak terbatas. Dia meliputi segala sesuatu dan tiada sesuatu yang dapat meliputi Dia. Dia Awal, Dia Akhir, Dia Zahir, Dia Batin, Dia Pencipta segala yang ada. Dia Yang Empunya seluruh makhluk. KekuasaanNya tidak pernah hilang, sebelumnya dan tidak pula sekarang, lagi pula pada masa mendatang. Dia Hidup dan maut tidak menimpa Dia. Dia Tetap Berdiri, kepudaran tidak menghinggapi Dia. Segala pekerjaanNya terbit dan kehendakNya Sendiri, dan bukan karena terpaksa. Sekarang pun Dia memerintah dunia seperti halnya dahulu Dia memerintah. Sifat-sifatNya kapan jua pun tidak berhenti. Dia setiap saat memperlihatkan kekuasaanNya.
(4) Kami berkeyakinan bahwa malaikat adalah makhluk Allah Taala, dan menjadi bukti akan firman:

"Melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka" (16:50)

Menurut hikmahNya yang sempurna mereka diciptakan untuk melaksanakan aneka ragam tugas. Mereka benar-benar ada. Sebutan mereka bukan hanya bagai tamsilan belaka. Mereka menghajatkan Tuhan seperti halnya manusia dan makhluk-makhluk lain. Allah Taala tidak menghajatkan mereka untuk menampakkan kekuasaanNya. Seandainya Dia berkehendak, maka tanpa menciptakan mereka, Dia Sendiri menampakkan kehendakNya. Akan tetapi Dia menghendaki, menurut hikmahNya yang sempurna, supaya makhluk itu tercipta, maka terciptalah sudah makhluk itu. Seperti halnya dengan perantaraan matahari Dia menerangi mata manusia, dan dengan pangan mengisi perut manusia, Allah Taala tidak menghajatkan matahari dan makan; demikian pula halnya untuk menampakkan beberapa kehendakNya Dia tidak menghajatkan malaikat.
(5) Kami berkeyakinan bahwa Tuhan bercakap-cakap dengan hamba-hambaNya dan menyatakan kehendakNya kepada mereka. Kalam (firman) itu turun berupa kata-kata khusus dan di dalam turunnya (Kalam itu) tidak ada campur tangan manusia. Kandungan maksudnya bukanlah buah pikiran manusia, demikian pula ragam kata-katanya bukan lah penataan manusia. Maknanya pun datang dari Allah Taala, dan kata-kataNya pun datang dari Allah Taala. Kalam itulah yang menjadi makanan hakiki bagi manusia. Dengan makanan itulah manusia tetap hidup. Dan, dengan perantaraan itulah tercipta hubungan manusia dengan Allah Taala. Kalam itu tidak ada tandingannya dalam kekuatan dan keagungannya; dan semisal itu tidak ada seorang hamba pun dapat menampilkan. Kalam itu membawa serta ilmu-ilmu yang mengandung khazanah yang tidak terbüang banyaknya. Seperti halnya sebuah tambang, tambang itu kian digali kian banyak jua keluar mutiara-mutiara bermutu tinggi. Bahkan tambang itu lebih dari tambang-tambang biasa, sebab khazanah yang terpendam di dalam khazanah-khazanah ini dapat habis, namun ilmu makrifat yang terkandung di dalam tambang Kalam itu tiada kunjung habis. Kalam ini bagaikan samudera yang pada permukaannya ambarkesturi terapung-apung dan mutiara-mutiara berserakan di dasamya. Barangsiapa memandang penampakan lahirnya, karena semerbak harumnya bau ambar itu, otaknya menjadi cerah-ceria. Barangsiapa menyelami kedalamannya ia menjadi kaya-raya oleh harta kekayaan ilmu dan irfan. Kalam itu terdiri atas bermacam-macam; kadang-kadang terdiri atas hukum-hukum dan syariat. Adakalanya terdiri atas wejangan-wejangan dan nasihat-nasihat. Adakalanya dengan perantaraan Kalam itu pintu-pintu ilmu gaib terbuka dan adakalanya dengan perantaraannya ilmu-ilmu rohani yang terpendam menjadi nampak. Adakalanya dengan perantaraannya Allah Taala memperlihatkan kesukaanNya kepada hambaNya dan adakalanya dengan perantaraannya Dia memberitahukan ketidaksukaanNya. Adakalanya Dia menyenangkan hati manusia dengan kata-kata bernada kasih mesra. Adakalanya Dia memperingatkan terhadap kewajibannya dengan ancaman. Kadang-kadang Dia membukakan rahasia-rahasia halus mengenai budi-pekerti luhur. Kadang-kadang Dia memberitahukan tentang Sifat-sifat buruk yang tersembunyi. Walhasil, kami percaya bahwa Allah Taala bercakap-cakap dengan hamba-hambaNya. Derajat-derajat Kalam itu sesuai dengan ragam keadaan dan ragam sifat manusia, serta turun dalam berbagai bentuk. Dari antara seluruh Kalam yang pernah dituturkan Allah Taala kepada hamba-hambaNya, Alquranlah yang terluhur, termulia, dan tersempurna. Syariat yang diturunkan dengan perantaraanNya dan petunjuk-petunjuk yang diberikan dengan perantarannya berlaku selama-lamanya. Tiada Kalam yang datang kemudian akan memansukhkan atau menghapuskan Kalam ini.
(6) Demikian pula kami berkeyakinan, manakala dunia diliputi kegelapan dan orang-orang bergelimang di dalam noda kefasikan dan kedurjanaan dan sulit bagi mereka melepaskan diri dari cengkeraman syaitan tanpa pertolongan samawi, maka Allah Taala dari kebajikanNya yang sempurna dan dari kasihNya yang tak terhingga senantiasa memilih beberapa di antara hamba-hambaNya yang suci lagi mukhlis dan mengutus mereka kedunia untuk memberi bimbingan. Sebagaimana Dia berfirman,

"Tiada suatu umat melainkan telah datang kepadanya seorang pernberiperingatan " (35:25).

Maksudnya, tiada bangsa yang di tengah-tengahnya belum pernah didatangi seorang nabi dari Tuhan; dan pribadi-pribadi ini, dengan perantaraan amal-amal suci dan tingkah laku yang tak bemoda, menjadi penyuluh bagi manusia dan dengan perantaraan mereka Dia memberitahukan kepada manusia mengenai kehendakNya. Barangsiapa memalingkan muka daripada wujud-wujud itu, mereka menernui kebinasaan. Barangsiapa mencintai wujud-wujud itu mereka menjadi kekasih Tuhan. Bagi mereka pintu-pintu keberkatan telah dibukakan serta rahmat-rahmat Tuhan turun kepada mereka. Mereka telah diangkat menjadi pemimpin bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Telah ditakdirkan bagi mereka kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kami pun percaya bahwa Utusan-utusan Tuhan tersebut, yang mengeluarkan dunia dari kejahatan, senantiasa membawa kepada cahaya dan dilimpahi berbagai pangkat dan kedudukan. Penghulu di antara semuanya itu adalah Rasulullah saw., yang ditetapkan Allah Taala menjadi Penghulu anak-cucu Adam dan diutus bagi sekalian umat manusia (Surah AsSabah: 29) dan kepadanya Dia membukakan segala ilmu yang sempurna; kepadanya Dia memberi bantuan dengan kegagahan dan kehebatan demikian rupa sehingga mendengar namanya pun raja-raja gagah-perkasa sekalipun menjadi gemetar ketakutan. Dia telah membuat bagi beliau seluruh hamparan bumi menjadi mesjid sehingga umat beliau bersujud kepada Wujud Yang Maha esa di atas tiap jengkal tanah. Bumi menjadi bersemarak oleh suasana keadilan dan perlakuan sama-rata, yang sebelumnya dilumuri oleh keaniayaan dan kelaliman. Kami pun berkeyakinan, seandainya nabi-nabi terdahulu juga hidup di dalam zaman Nabi yang paripurna ini niscaya beliau-beliau tidak boleh tidak harus menaati beliau saw. Sebagaimana Allah Taala berfirman,

"Dan ingatlah ketika Allah mengambû perjanjian dan ahlulkilab melalui nabi-nabi, bahwa 'ApasajayangKuberikan kepadamuKitab dan Hikmah, kemudian datang kepadarnu seorang Rasul menggenapi Wahyu yang ada padarnu, maka hamsiah kamu beriman kepadanya dan haruâah kamu membantunya. "(3:82).

Lagi sebagaimana Rasulullah saw. pun bersabda


"Andaikata Musa (a.s.) dan Isa (a.s.) hidup, niscayalah beliau-beliau pun tidak boleh tidak harus menaatiku" (Tafsir lbnu Katsir, jilid, him. 246).

(7) Kami pun berkeyakinan demikian pula, bahwa Allah Taala berkenan mengabulkan doa-doa hamba-hambaNya dan menjauhkan kesulitan-kesulitan mereka. Dia adalah Tuhan Yang Mahahidup, dan kehidupanNya dirasakan manusia pada setiap zaman dan setiap saat.
Adapun tamsilannya bukanlah seperti sebuah tangga yang dibuat seorang penggali sumur. Apabila sumur itu selesai dibuatnya, tangga itu pun dirusaknya karena tidak ada gunanya lagi dan mungkin akan menghambat pekerjaannya. Bahkan tamsilannya adalah Iaksana nur atau cahaya yang tanpa cahaya itu segala sesuatu gelapgelita, dan seperti roh yang tanpa itu di segala penjuru nampak hanya maut demi maut belaka. Andaikata Wujud itu dipisahkan dan hamba-hamba, mereka itu akan tinggal jadi tubuhtubuh tak bemyawa belaka.
PerikeadaanNya "tidak seperti berikut: Dia pernah menciptakan dunia, tetapi sekarang Dia diam berpangku tangan. Malahan Dia senan tiasa mengadakan hubungan dengan hamba-hambaNya dan Dia menaruh perhatian terhadap kerendahan hati dan ketakberdayaan mereka. Andaikata mereka lupa kepadaNya, maka Dia Sendiri memperingatkan mereka tentang WujudNya. Dengan perantaraan para pembawa Amanat khusus, Dia menerangkan kepada mereka bahwa,

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepada engkou tentang Aku, maka jawablah, 'Sesungguhnya Aku dekat, Aku perkenankan doa orang yang telah memohon apabüa ia mendoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka, yaitu orang-orang yang mendoa itu pun menyahut seruanKu dan beriman kepadaKu, supaya mereka mendapat petunjuk" (2:187).

(8) Kami pun berkeyakinan demikian pula, bahwa Allah Taala senantiasa memberlakukan takdirNya yang terkhusus di dunia ini. Tidak hanya hukum kodratNya yang berlaku yang disebut hukum alam melainkan selain itu pun berlaku pula sebuah takdir khas, yang dengan perantaraan itu Dia senantiasa memperlihatkan kekuasaan dan kebesaranNya, dan mempertunjukkan alamat kodratNya. Kodrat itulah yang diingkari oleh sementara orang karena ketunapengertiannya. Lagi pula, mereka tidak mengakui adanya sesuatu hukum lain selain hukum alam dan mereka menyebut hukum alam (tabi'i) itu sebagai hukum kodrat.
Padahal itu dapat disebut hukum alam, tetapi tidak dapat disebutkan hukum kodrat. Sebab, kecuali itu ada lagi hukum-hukum lain pula, yang dengan perantaraan itu Dia membantu hamba-hambaNya yang terkasih dan membinasakan musuh-musuh mereka. Sungguh, apabila hukum-hukum semacam itu tidak ada, maka betapa mungkin Nabi Musa a.s. yang keadaannya demikian tidak berdaya dan lemah dapat mengalahkan Raja Firaun yang demikian bengisnya. Kendati Nabi Musa a.s. lemah beliau unggul dan walaupun Firaun perkasa ia jadi binasa. Lalu, andaikata tidak ada hukum lain, maka betapa mungkin, tatkala seluruh bangsa Arab bersatu-padu hendak membinasakan Nabi Muhammad saw. Allah Taala memenangkan beliau saw. pada setiap medan laga dan memelihara beliau dan setiap gempuran musuh. Pada akhirnya beliau beserta sepuluh ribu orang suci menaklukkan wilayah yang dari situ beliau dahulu terpaksa keluar dengan disertai hanya oleh seorang setiawan. Apakah hukum alam dapat menciptakan peristiwa-peristiwa serupa itu? Sekali-kali tidak! Hukum itu menyatakan kepada kita, setiap kekuatan lemah, hancur bila berhadapan dengan kekuatan raksasa. Lagi, tiap orang lemah, binasa di tangan orang kuat.
(9) Kami pun berkeyakinan pula mengenai hal ini, bahwa sesudah manusia mati ia akan dibangkitkan lagi, dan amal perbuatannya akan diminta pertanggungjawaban. Barangsiapa beramal baik ia akan diberi ganjaran baik. Barangsiapa melanggar perintah-perintah Allah, ia akan diberi hukuman berat. Dan, tiada ikhtiar yang dapat menghindarkan manusia dari kebangkitan itu, meskipun tubuhnya dimakan burung atau pun dimakan binatang-binatang buas di hutan, baikpun cacingcacing di dalam tanah memisahkannya hingga berzarahzarah, kemudian diubahnya ke dalam bentuk lain walaupun sampai tulang-belulangnya habis dibakar; namun demikian ia kelak akan dibangkitkan kembali dan di hadapan Sang Penciptanya ia akan diminta pertanggungjawaban. Sebab, kodratNya yang sempurna tidak menghajatkan tubuhnya yang pertama saja harus ada, untuk memungkinkan Dia menciptakannya lagi. Bahkan sebenarnya Dia dapat menciptakan lagi dari zarah yang sekecil-kecilnya atau dari bagian roh yang sehalus-halusnya. Demikianlah bakal terjadi pula.
Tubuh akan menjadi tanah, namun zarah-zarahnya yang halus tidak akan sirna, tidak pula roh yang bermukim di dalam tubuh manusia tanpa seizin Allah Taala akan sirna.
(10) Kami berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari Allah Taala dan orang yang menentang agamaNya, jika ia tidak diampuni dengan rahmatNya yang sempurna akan ditempatkan di dalam suatu tempat yang dinamakan jahanam, yang di dalamnya terdapat azab panas api atau dingin yang hebat. Ada pun tujuannya bukan untuk menimpakan penderitaan, melainkan diperhitungkan untuk perbaikan mereka kelak hari. Di tempat itu tiada terdengar sesuatu selain ratap-tangis dan gemeletuk gigi hingga suatu hari tiba ketika kasih-sayang Allah yang meliputi segala sesuatu akan menyelimuti mereka; dan sempurnalah janji,


"Akan tiba suatu nasa ketika di dalam neraka seorang pun tidak terdapat di dalamnya dan angin pun melambailambai daun pintunya" (Tafzir Muaümul TanzU, di bowah ayat Facmiwl tadima SyMpi, Swoh Hud, ayat 107).

(Il) Lagi pula kami pun berkeyakinan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah Taala, nabi-nabiNya, malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, dan beriman dengan segenap jiwa-raganya kepada perintah 10 perintahNya serta menempuh cara-cara yang menunjukkan kerendahan hati dan tidak menyombongkan diri, meskipun mereka orang besar, mereka menampilkan diri seperti orang kecil. Meskipun mereka orang kaya, mereka menjalani hidup seperti orang miskin. Mereka berbakti kepada makhluk Allah. Mereka mendahulukan kesejahteraan orang lain daripada mendahulukan kesenangan sendiri. Mereka pantang berbuat aniaya, berbuat sesuatu yang melampaui batas dan khianat. Mereka menjadi pengemban nilai budi-pekerti luhur dan diam menjauhkan diri dari budi-pekerti rendah. Orang-orang itu akan ditempatkan di tempat yang disebut jannah (sorga) di dalamnya tidak terdapat sekelumit pun bayangan kesusahan dan penderitaan selain santai dan ketentraman. Insan akan memperoleh keridhaan Allah dan akan memperoleh kebahagiaan dengan melihat seri wajahNya. Setelah diselimuti cadar karuniaNya ia akan memperoleh kedekatan kepadaNya demikian rupa seolah-olah menjadi cerminNya. Sifat-sifat ilahi akan menjelmakan diri secara sempurna di dalam dirinya. Segala keinginan rendahnya akan hilang sirna. Kehendak nya akan menjadi kehendak Allah. Setelah ia mendapatkan kehidupan abadi ia akan menjadi penjelmaan Allah Taala. ltulah kepercayaan-kepercayaan kami dan selain itu kami tidak mengetahui kepercayaan-kepercayaan apakah yang dapat memasukkan orang ke dalam agama Islam. Semua Imam di dalam Islam senantiasa menetapkan hal-hal tersebut diatas itu sebagai kepercayaan-kepercayaan Islam dan dalam hal ini kami sepenuhnya menyetujui ketetapan beliau-beliau.

Keutamaan Akhlak

Diposkan oleh abutaheera On 21.09 0 komentar

Ada lima tugas utama setiap nabi diutus ke dunia ini, yaitu: 1). Menampakkan mu’jizat kepada umatnya agar dengan menyaksikan itu mereka meyakini kebenarannya; 2). Meluruskan kepercayaan dan keyakinan umatnya yang salah; 3) Memperbaiki amal dan akhlaq umatnya yang telah mengalami kerusakan dari ajaran aslinya; 4) Memberikan hikmah berupa kedalaman dan keluasan ilmu yang mampu menerangi akal dan hati umatnya sehingga mereka mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan umat lainnya sehingga kehidupan mereka lebih maju, lebih baik dan lebih indah yang dapat menarik umat lainnya dan 5). Mempersatukan umatnya. Terlebih Nabi Besar Muhammad SAW, beliau mempunyai tugas yang lebih besar dan luas dibandingkan nabi-nabi lainnya, karena beliau adalah Sang Khatamun-Nabiyyin Sayyidul Anbiyai wal-Mursalin Penghulu para Nabi dan Rasul Allah di jagad raya ini. Sehubungan dengan akhlaq yang utama, beliau pernah bersabda kepada sahabat Uqbah bin Amir RA sebagai berikut:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: لَقِيَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَذَرْتُهُ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ أَوْ بَذَرَنِي فَأَخَذَ بِيَدِي فَقَالَ: يَا عُقْبَةُ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ أَخْلاَقِ أَهْلِ الدُّنْيَا وَأَهْلِ اْلآخِرَةِ ؟ تَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ أَلاَ وَمَنْ أَرَادَ اللهَ أَنْ يَمُدَّ فِى عُمْرِهِ وَيَبْسُطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَكَ
Dari Uqbah bin Amir RA berkata: Nabi SAW bertemu saya, maka aku pegang tangannya atau beliau memegangi tanganku, lalu bersabda: Wahai Uqbah, maukah aku ceriterakan kepada engkau tentang keutamaan akhlaq ahli Dunia dan ahli Akhirat? Sambunglah silaturrahim kepada orang yang telah memutuskan engkau; berilah orang yang mencegah engkau dan berilah maaf orang yang telah menganiaya engaku. Ingatlah! Siapa yang menginginkan Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan untuknya rizki-Nya, maka hendaklah ia bertaqwa dan menyambung silaturrhim (Ibnu Jarir dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8694)


Dalam Hadits tersebut, beliau menyebutkan tiga akhlaq utama yang dapat mendatangkan rahmat bagi kehidupan dunia dan akhirat, yaitu:

1. Menyambung hubungan kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengannya. Mengamalkan akhlaq demikian sangat berat, tetapi sangat mulia karena harus mengorbankan tenaga, waktu dan perasaan yang paling dalam. Inilah yang dinamakan silaturrahim., sebagaimana sabda sahabat Umar bin Khaththab RA berikut:
عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: لَيْسَ الْوَصْلُ أَنْ تَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ ذَالِكَ الْقِصَاصُ وَلَكِنِ الْوَصْلُ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ
Dari Ikrimah RA berkata: Umar bin Khaththab berkata: Bukan silaturrahim engkau mengunjungi orang yang telah mengunjungi engkau, itu adalah kunjungan balasan, akan tetapi silaturrahim itu adalah engkau mengunjungi orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau (Al-Baihaqi dalam Syi’abul-Iman dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8689)

2. Memberikan kebaikan kepada orang yang tidak mau berbuat baik kepadamu. Akhlaq ini juga berat tapi sangat mulia, karena amalan inilah inti dari ajaran agama Islam, sebagaimana Allah SWT firmankan dalam Al-Quran:
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ya, siapa saja yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan ia berbuat baik, maka baginya ada ganjaran di sisi Tuhannya; dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih (Al-Baqarah, 2:112-113)

Bahkan kepada orang yang telah berbuat buruk pun, kita diperintahkan supaya membalas dengan kebaikan kalau ingin menjadi hamba yang dicintai Allah SWT, sebagaimana sabda Nabi kita Muhammad SAW berikut:

اَلْخَلْقُ كُلُّهُمْ عِيَالُ اللهِ وَتَحْتَ كَنْفِه فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ مَنْ أَحْسَنَ إِلَى عِيَالِهِ وَأَبْغَضُ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ مَنْ ضَيَّقَ عَلَى عِيَالِهِ
Semua manusia itu keluarga Allah dan berada dalam lindungan-Nya, maka manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang berbuat baik kepada keluarga-Nya dan orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menyengsarakan keluarga-Nya (Ad-Dailamiy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Kanzul-Ummal, Juz VI/16170).

3. Memberikan maaf kepada orang yang telah berbuat aniaya kepadanya.

Ketiga macam akhlaq mulia ini bukan hanya diajarkan oleh yang mulia Nabi Muhammad SAW, tetapi berkali-kali beliau contohkan dihadapan para sahabat, misalnya beliau memberikan pengampunan umum kepada para pembesar dan masyarakat Quraisy yang belasan tahun menganiaya dan berupaya membunuh beliau, bahkan terhadap Abdullah bin Ubai bin Salul seorang pembesar Madinah yang munafiq Nabi kita Muhammad SAW berkenan menshalatkan janazahnya sampai-sampai sahabat Umar bin Khaththab RA mengingatkan beliau dengan membacakan ayat Al-Quran yang berbunyi:




Sekalipun engkau memohonkan ampunan sampai 70 kali, sekali-kali Allah tidakan akan mengampuni mereka (At-Taubah, 9:80)

Sepontan Nabi menjawab: “Dalam ayat itu Allah membatasi sampai 70 kali, aku akan memohonkan ampunan lebih dari itu.

Apa yang diajarkan dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu bukanlah hayalan yang tidak dapat dicohtoh oleh umat Islam. Ketiga ajaran tersebut akan dapat dilaksanakan jika umat Islam memiliki keimanan yang menumbuhkan ketaqwaan sejati seperti para para sahabat dan para Imam umat Islam yang dibangkitkan dari abad-ke abad. Pendek kata orang yang ingin Allah memanjangkan umur dan banyak rezekinya, ia harus senantiasa menampilkan sikap taqwa dan menyambung hubungandengan orang yang telah memutuskan hubungan, sebagaimana akhir sabda Nabi kepada sahabat Uqbah bin Amir RA berikut:.

أَلاَ وَمَنْ أَرَادَ اللهَ أَنْ يَمُدَّ فِى عُمْرِهِ وَيَبْسُطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَكَ
Ingatlah! Siapa yang menginginkan Allah memanjangkan umurnya dan meluaskan untuknya rizki-Nya, maka hendaklah ia bertaqwa dan menyambung silaturrhim (Ibnu Jarir dan Kanzul-Ummal, Juz III/ 8694)


Category : | Read More...... edit post

In Memorian

In Memorian
wisata

About Me

KOMPAS.com - Nasional

Jemaat Ahmadiyah Indonesia